Sikap “Go Green” dan Subsidi BBM

Artikel dalam Kompas Cetak ini menggugah kita untuk bertanya tentang Konsep Pemerintah atas Teknologi dan Pengaruhnya bagi Masyarakat.

Nyatakan Sikap Anda atas kondisi Subsidi BBM  vs Sikap Go Green ini!

Jumat, 25 Juni 2010 | 04:20 WIB

STEFANUS OSA

Setiap produsen kendaraan bermotor yang ikut ajang Indonesia International Motor Show, yang bakal digelar ke-18 kalinya di Pekan Raya Jakarta, 23 Juli-1 Agustus 2010, ingin produknya dilirik dan laku. Namun, adakah mereka peduli terhadap emisi gas karbon dari kendaraan yang mereka produksi?

Konsumen kini semakin cerdas. Ini setidaknya terungkap dalam sebuah tes sederhana terhadap konsumen pada pertengahan Juni 2010. Maria, ibu rumah tangga yang tinggal di Jakarta, misalnya, terkesima melihat mobil sedan yang baru beberapa bulan diluncurkan. Pertanyaan pertama, berapa harga jual mobil itu?

Pertanyaan berikutnya, apakah mobil itu cocok untuk dipilih. ”Body mobilnya rendah. Jakarta sering banjir. Hujan sebentar saja, air sudah menggenang. Apa mobil ini bisa menjadi pilihan,” tanyanya.

Sederet pertanyaan pun muncul, mulai dari kenyamanan, hemat bahan bakar atau tidak, dan sebagainya.

Perilaku konsumen tak bisa begitu saja diabaikan. Betapapun produsen otomotif ingin mengembangkan idealisme dengan produk yang ramah lingkungan, sesuai tuntutan dunia untuk mengatasi pemanasan global, tetapi selera konsumen tetap jadi pertimbangan utama.

Diakui atau tidak, meningkatnya angka penjualan kendaraan bermotor akan meningkatkan pula ancaman polusi.

Pada Jakarta Toyota Metropolitan Rally ke-4 di Taman Impian Jaya Ancol, Minggu (20/6), Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menyampaikan rasa gundahnya.

”Pukul enam tadi pagi, saya mencanangkan program penanaman satu juta pohon. Sekarang, saya melepaskan sekitar 200 mobil untuk rally. Pasti, kendaraan ini mengeluarkan emisi gas buang yang tidak sedikit,” kata dia.

Kementerian Perhubungan mencatat, kontribusi kendaraan bermotor di Jakarta terhadap polusi saja sudah 70 persen. Dengan 9,99 juta kendaraan pada tahun 2009, ancaman polusi itu sudah sangat meresahkan.

Bambang memberikan ilustrasi. Jika satu kendaraan di Jakarta menempuh perjalanan 35 kilometer per hari, akan dihasilkan 5,95 kilogram karbon dioksida (CO2).

Andai hanya 40 persen dari kendaraan bermotor di Jakarta yang lalu-lalang setiap hari, akan dihasilkan 0,024 juta ton CO2 per hari atau 720.000 ton per bulan. ”Bandingkan dengan Piala Dunia di Afrika Selatan saat ini yang menghasilkan 520.000 ton CO2. Emisi kendaraan di Jakarta dalam rentang waktu yang sama satu bulan masih lebih tinggi 38 persen,” ujar Bambang.

Mengemudi secara terampil, menurut Bambang, salah satu cara mengurangi emisi karbon sehingga smart driving akan menjadi eco driving. Selain itu, efek polutif dapat diminimalkan dengan biofuel atau bahan bakar ramah lingkungan, mesin yang ramah lingkungan, termasuk penggunaan kendaraan hibrid (hybrid vehicle).

Pada pertemuan G-20 di Pittsburgh (Amerika Serikat) dan Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen (Denmark), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berkomitmen, Indonesia akan menurunkan emisi karbon 26 persen pada tahun 2020.

Teknologi prolingkungan

Penanaman pohon untuk mengeliminasi emisi gas buang dilakukan. Membongkar stasiun pengisian bahan bakar umum dan lokasi perdagangan yang tidak sesuai peruntukan menjadi taman kota terus diupayakan. Namun, cukupkah semua itu?

Ketua Penyelenggara IIMS 2010 Johnny Darmawan menegaskan, penciptaan teknologi ramah lingkungan oleh para ATPM sudah dimulai. IIMS 2010 menjadi ajang pembuktian tanggung jawab sosial para agen tunggal pemegang merek (ATPM) untuk menciptakan konsep teknologi berbasis ramah lingkungan.

Hal itu, misalnya, dilakukan Daihatsu dengan menghadirkan mobil konsep eco and smart, seperti mobil 660 cc yang hanya butuh 1 liter premium untuk menempuh 30 kilometer.

Suzuki menghadirkan mobil konsep multi-purpose vehicle (MPV) R3. Honda mengusung model unggulan CRZ, 2CV, dan U3-X. Sementara Toyota mengusung tema ”We Innovate the Eco-life for You” dengan sejumlah produk konsep unggulan ramah lingkungannya.

”Di saat pemerintah pusing soal subsidi BBM yang terus meningkat, penciptaan BBM alternatif terus didorong. Industri pun didorong menciptakan teknologi yang efisien BBM,” kata Johnny, yang juga Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor.

Inovasi teknologi itu menjadi solusi untuk penggunaan BBM. Tentu, secara tidak langsung, bakal bisa menekan subsidi BBM. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010 subsidi BBM mencapai Rp 68,72 triliun. Dalam rancangan APBN Perubahan 2010 subsidi BBM naik menjadi Rp 89,29 tiliun (Kompas, 23/4).

Konsumen pun sangat berminat dengan kendaraan yang irit bahan bakar. Namun, begitu ditunjukkan mobil Toyota Prius berteknologi mesin hybrid dengan harga yang sulit ditekan, peminat pun satu per satu pergi. Tak ada insentif pemerintah.

Pengurangan subsidi BBM tampaknya akan semakin berat tanpa dukungan pemerintah. Padahal, setoran pajak kendaraan terus digodok dengan kecenderungan naik setiap tahun.

Ironisnya lagi, pengenaan pajak di tengah prospek penjualan kendaraan yang terus meningkat belum dirasakan berdampak pada pembangunan infrastruktur jalan. Jalan yang lama kurang diperhatikan, sementara pembangunan jalan baru kerap dihadang pengadaan lahan.

Bagaimana dengan sepeda motor? Penjualan sepeda motor kian meningkat. Transportasi massal yang kurang memadai membuat sepeda motor menjadi alternatif. Efek emisi gas buang sepeda motor menjadi pekerjaan rumah bagi industri dan pemangku kepentingan.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan, penjualan sepeda motor tahun 2008 mencapai 6.215.865 unit. Akibat krisis global, total penjualan sepeda motor tahun 2009 mencapai 5.851.962 unit.

Tantangan kita tidaklah sekadar meraup keuntungan, tetapi semakin dituntut menciptakan ”green industry, green techonology, dan green productivity” supaya kita betul-betul go green (tatanan proses produktivitas menuju ramah lingkungan), sekaligus efisiensi subsidi BBM. Inilah sebuah kiat industri.

Iklan

5 Responses to Sikap “Go Green” dan Subsidi BBM

  1. Mochammad says:

    Semoga perseorangan, lembaga, dan seluruh masyarakat menyadari hal itu, pentingnya “go green”.

    Salam,

    Mochammad4s
    http://mochammad4s.wordpress.com/

  2. moch. syaifudin says:

    saya setuju terhadap sikap “go green”, karena sekarang jarang sekali orang-orang yang peduli terhadap lingkungan. mungkin di karenakan gengsi atau kurang berminat, padahal jika kita menanam pohon di sekitar rumah kita saja kita sudah sedikit membantu meringankan beban polusi udara yang sangat banyak. Dan kita juga bisa menikmati segarnya udara tanpa dicemari oleh polusi udara.
    dan kenapa saya tidak setuju dengan adanya subsidi bbm, karena setiap keluarga pasti memilki sedikitnya dua unit motor. jika pemritah mensubsidi BBM maka jumlah kendaraan bermotor juga meningkat, karena BBM murah dan tingkat polusi udara akan meningkat.

    moch. syaifudin
    16.2009.1.00152

  3. serfi 06.2010.1.05632 says:

    mnurut ane yg perlu di benahin ntu transportasi umumnya, banyak jenis transportasi yang ada di negeri kita ini dari bus,kreta api, kapal laut, kapal terbang, menurut ane angkutan yang perlu di perbaikin habis habisan, sebagai pengguna jasa bus antar provinsi, saya sangat tidak nyaman ketika menumpang bus kelas ekonmi terang saja busnya sudah 40% bobrok udah gitu walaupun penumpang udah penuh tetep aja pak kondektur tak henti-hentinya masih mencari penumpang,ketika penumpang hampir kehabisan nafas barulah bus berjalan sesuai dengan tujuan, mungkin hal ini salah satu faktor para pengguna jalan di negeri ini menggunakan kendaraan pribadi, eah saya cuma bisa nerangin bus aja nih karena yang lainya belum pernah nyobain, trim sekian terimakasih

  4. Mediar Beritano says:

    go green memang sangat penting! Cz aq jenuh skali dg “global warming effect”
    Cz gara2 global warming, kondisi cuaca jd gk menentu! kadang panas kadang hujan..
    itu semua krn human error, maka dg adanya “Go Green” diharapkan semua lapisan masyarakat paham akan kondisi lingkungan, karna jika kondisi lingkungan yg bersih, sehat dr polusi udara terutamanya, dpt membuat tubuh kita menjadi sehat & alam sekitar kita menjadi sejuk & nyaman..
    Sekian terima kasih

    NPM: 06.2010.1.05706

  5. serfi 06.2010.1.05632 says:

    celakanya masyrakat kurang banyak tahu tentang go green ini, karena dari temen – temen mahasiswa juga banyak yang belum tahu,,,kebnayakna buka fb kali ye,,,hehehe

    sebagian ada ya ude tau tapi nggak tau care partispasinye gimana ////?

    kalo masyrakat udah wear terhadap come to natural nah saatye pemerintah kite lebih rsponsiff laguiiii,,,,

    jangan cuma ngurusin parpol aje

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: